TEKNOLOGI KULTUR PAKAN ALAMI
“Tetraselmis chuii”
Oleh :
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
SMK N 1 SALAM
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur
saya ucapkan kapeda Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan Rahmat dan
Karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan “MAKALAH TEKNOLOGI KULTUR PAKAN
ALAMI” yang berjudul “TEKNIK KULTUR Tetraselmis chuii” dengan baik.
Jika ada kekurangan saya mohon maaf, karena saya juga masih dalam tahap
pembelajaran. Dan semoga kedepannya dapat menjadi lebih baik lagi. Atas
perhatian pembaca, saya mengucapkan terima kasih. Wasalam !
Salam, 28 Oktober 2015
i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.............................................................................................................i
Daftar
Isi.......................................................................................................................ii
Pendahuluan................................................................................................................iii
A.
Latar
belakang...............................................................................................iii
B.
Tujuan.............................................................................................................v
C.
Manfaat...........................................................................................................v
Pembahasan................................................................................................................1
A. Teknik Budidaya Tetraselmis sp...............................................................1
B.
Parameter Pertumbuhan
Fitoplankton.............................................................3
C.
Cara Persiapan Media Kultur Tetraselmis
chuii.............................................5
D.
Cara Pemeliharaan Tetraselmis
chuii..............................................................7
Kesimpulan................................................................................................................8
Daftar
Pustaka...........................................................................................................9
ii
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Usaha budidaya ikan pada dewasa ini nampak semakin giat dilaksanakan baik
secara intensif maupun ekstensif. Usaha budidaya tersebut dilakukan di perairan
tawar, payau, dan laut. Selain pengembangan skala usaha, ikan yang
dibudidayakan semakin beragam jenisnya.
Salah satu faktor pendukung dalam
keberhasilan usaha budidaya ikan adalah ketersediaan pakan, dimana penyediaan
pakan merupakan faktor penting di samping penyediaan induk. Pemberian pakan
yang berkualitas dalam jumlah yang cukup akan memperkecil persentase larva yang
mati. Jenis pakan yang dapat diberikan pada ikan ada dua jenis, yaitu pakan
alami dan pakan buatan. Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di
alam, sedangkan pakan buatan adalah pakan yang diramu dari beberapa macam bahan
yang kemudian diolah menjadi bentuk khusus sesuai dengan yang dikehendaki.
Sasaran utama untuk memenuhi
tersedianya pakan adalah memproduksi pakan alami, karena pakan alami mudah
didapatkan dan tersedia dalam jumlah yang banyak sehingga dapat menunjang
kelangsungan hidup larva selama budidaya ikan, mempunyai nilai nutrisi yang
tinggi, mudah dibudidayakan, memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut
larva, memiliki pergerakan yang mampu memberikan rangsangan bagi ikan untuk
mangsanya serta memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat dalam waktu
yang relatif singkat dengan biaya pembudidayaan yang relatif murah. Upaya untuk
memperoleh persyaratan dan memenuhi pakan alami yang baik adalah dengan
melakukan kultur fitoplankton.
Salah satu jenis fitoplankton yang
digunakan pada kegiatan pembenihan ikan, yaitu Tetraselmis sp. Pembudidayaan
plankton jenis Tetraselmis sp. tergantung pada kondisi lingkungan
perairannya, serta diperlukan paket teknologi budidaya yang baik. Budidaya
plankton berbeda di tiap-tiap Negara sesuai dengan kondisi alamnya,
misalnya Indonesia adalah Negara tropis dimana suhu airnya relatif
sama sepanjang tahun dibandingkan dengan Negara lain termasuk Jepang (Mujiman,
1984).
iii
Dalam kultur fitoplankton ada dua
tujuan, yaitu monokultur dan kultur murni. Bila hendak mengkultur fitoplankton
sebagai makanan zooplankter cukuplah membuat monokultur, misalnya sebagai
makanan untuk Brachionus plicatilis, yang hidup di air payau. Tetapi
bila mengkultur fitoplankter untuk keperluan genetika, fisiologi atau siklus
hidup harus mengkultur fitoplankter yang bersangkutan secara murni, artinya
tanpa adanya bakteri (Sachlan, 1982).
Untuk menyediakan makanan dalam
jumlah yang cukup, tepat waktu dan berkesinambungan, pengetahuan tentang teknik
kultur murni fitoplankton yang baik mutlak diketahui oleh mereka yangbergerak
di bidang usaha perikanan baik dalam skala besar maupun kecil. Mengingat
pentingnya pakan alami tersebut sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan
usaha pembenihan ikan dan udang, maka penulis berpendapat perlu dilakukan
pengamatan kultur fitoplankton Tetraselmis sp. secara intensif untuk memperkaya
pengetahuan dalam rangka sumbangsih ilmu pengetahuan di bidang perikanan.
iv
B. Tujuan
1. Mengetahui cara budidaya Tetraselmis
sp. skala laboratorium dan kultur massal
2. Mengetahui pertumbuhan Tetraselmis sp.
pada medium yang berbeda baik skala lab maupun secara kultur massal.
C.Manfaat
1. Dapat mengetahui cara
budidaya Tetraselmis sp. secara skala lab dan kultursemi massal
2. Dapat mengetahui pertumbuhan
Tetraselmis sp. pada medium tumbuh yang berbeda.
v
PEMBAHASAN
A. Teknik
Budidaya Tetraselmis sp.
Gambar 1. Tetraselmis chuii
Klasifikasi Tetraselmis chui menurut Bougis, (1979) sebagai
berkut :
· Kingdom
: Plantae
· Filum
: Chlorophyta
· Kelas
: Prasinophyceae
· Ordo
: Pyramimonadales
· Genus
: Tetraselmis
· Speises
: Tetraselmis chuii
1
Tetraselmis sp. termasuk alga hijau,
mempunyai sifat selalu bergerak, berbentuk oval elips, mempunyai empat buah
flagella pada ujung depannya yang berukuran 0,75-1,2 kali panjang badan dan
berukuran 10x6x5 µm.
Menurut Mujiman (1984), Sel-sel
Tetraselmis sp. berupa sel tunggal yang berdiri sendiri. Ukurannya 7-12 µm,
berkolorofil sehingga warnanya pun hijau cerah. Pigmen penyusunnya terdiri dari
klorofil. Karena memiliki flagella maka Tetraselmis chuii dapat bergerak
seperti hewan. Pigmen klorofil Tetraselmischuii. terdiri dari dua macam
yaitu karotin dan xantofil. Inti sel jelas dan berukuran kecil serta dinding
sel mengandung bahan sellulosa dan pektosa.
Tetraselmis tumbuh dengan kondisi
salinitas optimal antara 25 dan 35 ppm (Fabregas et al, 1984).
Menurut Griffith et al (1973) mengatakan bahwa Tetraselmis sp. masih dapat
mentoleransi suhu antara 15-350C, sedangkan suhu optimal berkisar
antara 23-250C.
Reproduksi Tetraselmis chuii.
terjadi secara vegetatif aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dimulai
dengan membelahnya protoplasma sel menjadi dua, empat, delapan dalam bentuk
zoospore setelah masing-masing melengkapi diri dengan flagella. Sedangkan
reproduksi secara seksual, setiap sel mempunyai gamet yang identik (isogami)
kemudian dengan bantuan substansi salah satu gamet tersebut ditandai dengan
bersatunya kloroplast yang kemudian menurunkan zygote yang sempurna (Erlina dan
Hastuti, 1986).
2
B. Parameter Pertumbuhan Fitoplankton:
1. Nutrien
Nutrient dibagi menjadi menjadi
makronutrien dan mikronutrien. Nitrat dan fosfat tergolong makronutrien yang
merupakan pupuk dasar yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Nitrat adalah
sumber nitrogen yang penting bagi fitoplankton baik di air laut maupun air
tawar. Bentuk kombinasi lain dari nitrogen seperti ammonia, nitrit dan
senyawa organic dapat digunakan apabila kekurangan nitrat (Cotteau,
1996; Taw, 1990)
2. Suhu
Suhu optimal kultur fitoplankton
secara umum antara 20-24°C. hampir semua fitoplankton toleran terhadap suhu
antara 16-36°C. Suhu di bawah 16°C dapat menyebabkan kecepatan pertumbuhan
turun, sedangkan suhu di atas 36°C dapat menyebabkan kematian pada jenis
tertentu (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
3. Cahaya
Cahaya merupakan
sumber energy dalam proses fotosintetis yang berguna untuk
pembentukan senyawa karbon organic. Kebutuhan akan cahaya bervariasi tergantung
kedalaman kultur dan kepadatannya. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat
menyebabkan fotoinbihisi dan pemanasan. Intensitas cahaya 1000 lux cocok untuk
kultur dalam Erlenmeyer, sedangkan intensitas 5000-10000 lux untuk volume yang
lebih besar (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
4. Karbondioksida
Karbondioksida diperlukan
fitoplankton untuk membantu proses fotosintesis. Karbondioksida dengan kadar
1-2% biasanya sudah cukup untuk kultur fitoplankton dengan intensitas cahaya
yang rendah. Kadar karbondioksida yang berlebih dapat menyebabkan ph kurang
dari batas optimum (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
3
5. pH
Variasi pH dapat mempengaruhi
metabolism dan pertumbuhan fitoplankton dalam beberapa hal, antara lain
mengubah keseimbangan dari karbon organic, mengubah ketersediaan nutrient, dan
dapat mempengaruhi fisiologis sel (Dorling er. Al., 1997). Kisaran pH untuk
kultur alga biasanya antara 7-9, kisaran optimum untuk alga laut antara 7.5-8.5
sedangkan untuk Tetraselmis chuii optimal pada 7-8 (Cotteau, 1996; Taw,
1990).
6. Salinitas
Hampir semua jenis fitoplankton yang
berasal dari air laut dapt tumbuh optimal pada salinitas sedikit di bawah
habitat asalnya. Tetraselmis chuii memiliki kisaran salinitas yang cukup
lebar, yaitu 15-36 ppt sedangkan salinitas optimal untuk pertumbuhannya adalah
27-30 ppt (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
Laju pertumbuhan Tetraselmis
chuii adalah pertambahan jumlah Tetraselmis chuii tersebut. dalam
periode tertentu. Pada kultur skala lab parameter waktu per jam
sedangkan pada kultur skala semi massal parameter waktu per hari. Pertumbuhan
microalgae secara umum dapat dibagi menjadi lima fase meliputi fase lag, fase
eksponensial, fase penurunan kecepatan pertumbuhan, fase stasioner, dan fase
kematian. Pada fase lag pertambahan densitas populasi hanya sedikit bahkan cenderung
tidak ada karena sel melakukan adaptasi secara fisiologis sehingga metabolisme
untuk tumbuh lamban.
Pada fase eksponensial pertambahan
kepadatan sel (N) dalam waktu (t) dengan kecepatan pertumbuhan (µ) sesuai
dengan rumus fungsi eksponensial. Pada fase penurunan kecepatan tumbuh
pembelahan sel mulai melambat karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai
membatasi pertumbuhan. Pada fase stasioner factor pembatas dan kecepatan
pertumbuhan sama karena jumlah sel yang membelah dan yang mati seimbang. Pada
fase kematian kualitas fisik dan kimia kultur berada pada titik dimana sel
tidak mampu lagi mengalami pembelahan. Waktu generasi microalgae adalah waktu
yang dibutuhkan oleh mikro algae untuk sekali membelah menjadi dua.
4
C. Cara Persiapan Media Kultur Tetraselmis chuii
a. Tetraselmis chuii dengan
media 1liter
1. Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang
plastik, dan batu aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan
klorin 150 ml/ton.
2. Wadah diisi air medium dengan kadar garam
28 permil yang telah disaring dengan saringan 15 mikron. Kemudian disterilkan
dengan cara direbus, diklorin 60 ppm dan dinetralkan dengan 20 ppm Na2S2O3,
atau disinari lampu ultraviolet.
3. Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai
berikut :
- Natrium nitrat – NaNO3 = 84 mg/l
- Natrium dihidrofosfat-NaH2PO4 = 10 mg/l atau Natrium fosfat-Na3PO4 = 27,6 mg/l atau Kalsium fosfat-Ca3(PO4)2 = 11,2 mg/l
- Besi klorida – FeCl3 = 2,9 mg/l
- EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 10 mg/l
- Tiamin-HCl (vitamin B1) = 9,2 mg/l
- Biotin = 1 mikrogram/l
- Vitamin B12 = 1mikrogram/l
- Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196 mg/l
- Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l
- Natrium molibdat-NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l
- Mangan klorida kristal-MnCl2.4H2O = 0,0126 mg/l
- Kobalt korida kristal-CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l
5
b.
Tetraselmis chuii Dalam wadah 1 galon (3 liter):
- Dapat menggunakan botol “carboys” atau stoples.
- Persiapan sama dengan dalam wadah 1 liter.
- Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai
berikut :
- Urea-46 = 100 mg/l
- Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 10 mg/l
- Agrimin = 1 mg/l
- Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l
- EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 2 mg/l
- Vitamin B1 = 0,005 mg/l
- Vitamin B12 = 0,005 mg/l
c.
Tetraselmis Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
1. Wadah 200 liter dapat menggunakan akuarium, dan
untuk 1 ton menggunakan bakdari kayu, bak semen, atau bak fiberglass.
2. Persiapan lain sama.
3. Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai
berikut :
- Urea-46 = 100 mg/liter
- Pupuk 16-20-0 = 5 mg/liter
- Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 5 mg/liter atau Kalium dihidrofosfat-K2H2PO4 = 5 mg/liter
- Agrimin = 1 mg/liter
- Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/liter
4. Untuk wadah 1 ton dapat hanya menggunakan urea
60-100 mg/liter dan TSP 20-50 mg/liter.
6
D. Cara Pemeliharaan Tetraselmis chuii
a.
Tetraselmis Dalam wadah 1liter :
- Bibit ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk sebanyak 100.000 sel/ml. Airnya diudarai terus-menerus dan wadah diletakkan dalam ruang ber-AC, dan di bawah sinar lampu neon.
- Setelah 4-5 hari telah berkembang dengan kepadatan 4-5 juta sel/ml. Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya.
b.
Tetraselmis Dalam wadah 1 galon (3 liter) :
- Bibit dari penumbuhan dalam wadah 1 liter, ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk, untuk setiap galon membutuhkan bibit 100 ml, hingga kepadatan mencapai 100.000 sel/ml.
- Wadah ditaruh di dalam ruangan ber-AC, di bawah lampu neon, dan airnya diudarai terus-menerus.
- Setelah 4-5 hari telah berkembang dengan kepadatan 4-5 juta sel/ml. Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya.
c.
Tetraselmis Dalam wadah 200 liter dan 1
ton
- Wadah 200 liter membutuhkan 3 galon bibit, sedangkan wadah 1 ton 100 liter.
- Dalam waktu 4-5 hari mencapai puncak perkembangan dengan kepadatan 2-4 juta sel/ml.
- Hasil penumbuhan di wadah 200 ton digunakan sebagai bibit untuk penumbuhan di wadah 1 ton, sedangkan dari wadah 1 ton dapat digunakan sebagai pakan.
7
KESIMPULAN
Tetraselmis sp. termasuk alga hijau,
mempunyai sifat selalu bergerak, berbentuk oval elips, mempunyai empat buah
flagella pada ujung depannya yang berukuran 0,75-1,2 kali panjang badan dan
berukuran 10x6x5 µm.
Menurut Mujiman (1984), Sel-sel
Tetraselmis sp. berupa sel tunggal yang berdiri sendiri. Ukurannya 7-12 µm,
berkolorofil sehingga warnanya pun hijau cerah. Pigmen penyusunnya terdiri dari
klorofil. Karena memiliki flagella maka Tetraselmis chuii dapat bergerak
seperti hewan. Pigmen klorofil Tetraselmischuii. terdiri dari dua macam
yaitu karotin dan xantofil. Inti sel jelas dan berukuran kecil serta dinding
sel mengandung bahan sellulosa dan pektosa.
Beberapa parameter pertumbuhan
Tetraselmis adalah sebagai berikut :
·
Nutrien
·
Suhu
·
Cahaya
·
Karbondioksida
·
pH
·
Salinitas
Ada tiga
metode kultur Tetraselmis chuii adalah sebagai berikut :
1. Kultur
murni yang menggunakan media 1 liter
2. Kultur
semi masal yang menggunakan media 3 liter
3. Kultur
masal yang menggunakan media 200 liter dan 1 ton
8
DAFTAR PUSTAKA
Burlew, J.S. 1995. Algal Culture
from Laboratories to Pilot Plant. Carnegie Institution of Washington.
Washington.
Erlina, A. Hastuti, W. 1986. Kultur Plankton-BBAP.
Ditjen Perikanan. Jepara.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi.
Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro. Semarang.
9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar