Kelompok
3 Xi tphp 4
Coklat/Kakao
·
Dewi sepmawati (09)
·
Dwi julita retna sari (10)
·
Eni rosalita (11)
·
Erna priyantika (12)
Coklat/Kakao

Biji
kakao atau Theobroma cacao L. Diperoleh dari buah tanaman kakao.
Berdasarkan bentuk dari buah dibedakan atas :
v Kakao
jenis criollo atau kakao mulia biasanya berwarna merah atau hijau dengan kulit
buah yang tipis, berbintil kasar, dan lunak. Biji berbentuk bulat telur,
berukuran besar, dan kotiledon berwarna putih saat basah, rasa tidak begitu
pahit.
v Kakao
forastero/kakao lindak biasanya berwarna hijau dengan kulit yang lebih tebal.
Biji berbentuk gepeng dan tipis dengan kotiledon berwarna ungu saat basah dan
rasa lebih pahit. Pada umumnya kakao forastero berkualitas lebih rendah dibanding
dengan cokelat Criollo.
Buah kakao biasanya mengandung
30-40 biji yang tertutup oleh “pulp” yang berlendir, lunak, dan berwarna
putih susu. Bagian ini merupakan bagian dari dinding buah yang melekat pada
epidermis kulit biji.
Biji kakao mentah segar
terdiri dari bagian-bagian yaitu “pulp”, kulit biji, kulit air, keping
biji, dan lembaga (embryo).
Biji kakao umumnya mengandung
lemak, karbohidrat, protein, dan tanin disamping juga zat lain seperti mineral,
pigmen, asam dan air. Tanin yang terkandung dalam kakao berfungsi pada proses
fermentasi yaitu merubah aroma kakao yang dihasilkan. Selain itu juga “pulp”
berperan sebagai sumber fermentasi kakao.
Pengolahan Kakao
Pengolahan
kakao dikelompokkan menjadi dua :
1.
Pengolahan primer menghasilkan biji kakao kering dengan kadar air 7,5 %.
2.
Pengolahan sekunder menghasilkan produk berupa bubuk kakao.
(1) Alat pengolahan
Alat pengolahan yang digunakan untuk memudahan pelaksanaan
proses pengolahan kakao antara lain:
A. Mesin pemecah kakao
Fungsi:
untuk memecah buah kakao serta memisahkan biji segar dari kulit dan plasenta. Keunggulan
alat ini:
B.Kotak
fermentasi
Kotak fermentasi berfungsi untuk menghasilkan
senyawa-senyawa calon pembentuk (precursor) rasa dan aroma khas kakao di
dalam biji kakao.
C. Pengering/Dryer kakao
Fungsi
dari alat pengering ini untuk mempercepat proses pengeringan sehingga aman
untuk disimpan dan memiliki mutu yang baik sampai ke tahap pengolahan
berikutnya.
D. Alat pengukur kadar
air/Digimost
Alat
pengukur kadar air dengan spesifikasi teknik yaitu menggunakan sumber arus yang
berasal dari baterai type AA 2500 mAh rechargeable 6 buah dengan skala meter
5-35%. Alat ini memiliki dimensi : 13,5x12x8cm dengan Berat : 690 g
E. Alat sortasi/Grader
Fungsi :
o Meningkatkan produktivitas kerja sortasi manual
o Biji kakao
terkumpul dalam beberapa ukuran yang seragam berdasarkan tingkatan mutunya.
Kompartemen I berupa pecahan biji dan biji kecil, kompartemen II biji mutu C,
kompartemen III biji mutu A dan B, dan kompartemen IV biji mutu AA.
F. Mesin penyangrai kakao

Kapasitas 10 – 50
kg/batch [1 batch = 30-45 menit] dengan spesifikasi teknik yaitu :
o Sumber panas burner minyak
tanah, minyak nabati [dipilih sesuai kebutuhan]
o Penggerak motor listrik 1/2- 1 HP, 220
V
o Dilengkapi dengan silinder pendingin
dan kipas sentrifugal
(2) Pengolahan Primer Kakao
Proses pengolahan primer akan menghasilkan biji kakao kering dengan
kadar air sekitar 7 %. Ada dua metode yaitu metode konvensional
dan metode Sime-Cadbury. Metode konvensional khususnya untuk kakao
lindak akan menghasilkan biji kakao dengan tingkat keasaman yang lebih tinggi
dan cita rasa khas kakao yang lebih rendah. Untuk mengantisipasi hal tersebut
digunakan metode lain yaitu metode Sime-Cadbury.
Alur proses pengolahan primer cara sime cadbury dan
cara konvensional:

1. Panen
Buah
kakao yang siap panen adalah buah yang telah masak dimana buah mengalami
perubahan warna kulit buah.
Ciri-ciri
buah kakao yang sudah matang:
·
Buah yang berwarna merah saat
muda siap dipanen ketika alur buah berwarna kekuningan.
·
Buah yang ketika muda berwarna
hijau kekuningan siap dipanen ketika buah telah berwarna kuning tua atau
jingga.
·
Terlepasnya biji kakao dari
kulit buah bagian dalam.
·
Bila buah diguncang biji
biasanya akan menimbulkan bunyi.
Buah yang
tepat masak mempunyai kondisi fisiologis yang optimal dalam hal pembentukan
senyawa penyusun lemak dalam biji. Buah kakao akan mengalami penurunan mutu
ketika buah dipanen masih terlalu muda atau terlalu tua.
o Buah
yang terlalu tua akan menurunkan rendemen lemak yang terkandung dan menambah
persentase biji yang rusak akibat berkecambah.
o Buah
yang terlalu muda akan mengakibatkan rendahnya rendemen yang didapat,
persentase biji yang pipih tinggi dan kadar kulit biji yang cenderung tinggi.
2. Sortasi
Sortasi memegang peranan penting ketika buah kakao membutuhkan
penimbunan terlebih dahulu sebelum dikupas. Buah yang baik harus dipisahkan
dengan buah yang cacat. Untuk buah yang sehat dapat langsung difermentasi.
3. Pemeraman
Tujuan :
§ untuk mengurangi kandungan lendir atau pulp yang melapisi biji kakao
basah serta untuk memperoleh jumlah yang sesuai untuk pengolahan.
§ memperoleh keseragaman kematangan buah. Pemeraman
dilakukan dengan menimbun buah kakao di kebun selama 5-7 hari.
4. Pemecahan buah
Tujuan :untuk mengeluarkan biji kakao dari
kulit buah dan plasentanya.
Cara :memukul buah dengan kayu atau
dengan memukulkan satu dengan
yang lain.
Hal yang perlu
diperhatikan adalah menghindarkan biji kakao kontak dengan benda logam karena
akan berdampak warna biji kakao menjadi kelabu. Sebaiknya wadah yang digunakan
adalah wadah non logam misalnya ember plastik.
5. Fermentasi
Tujuan:
Ø mempermudah penghilangan lendir yang ada pada biji
Ø menghasilkan prekursor cita rasa
Ø mengubah warna biji menjadi
coklat kehitaman
Ø mengurangi rasa-rasa pahit, asam, manis dan aroma bunga
Ø meningkatkan aroma kakao
(coklat) dan kacang (nutty), dan
Ø mengeraskan kulit biji menjadi seperti tempurung.
Ø Menghasilkan biji yang tahan terhadap hama dan jamur.
Biji
kakao yang tidak difermentasi akan mengakibatkan mutu yang rendah dan tidak
munculnya aroma dari biji.
Proses fermentasi membutuhkan waktu sekitar 6 hari.
Selama fermentasi berlangsung terjadi penurunan berat hingga 25 %.
Fermentasi
pada biji kakao terjadi dalam dua tahap yaitu:
a. fermentasi anaerob, keberadaan asam sitrat membuat lingkungan pulp
menjadi asam sehingga akan menginisiasi pertumbuhan ragi dan terjadi fermentasi
secara anaerob.
b. Fermentasi aerob diinisiasi oleh bakteri asam laktat dan bakteri
asam asetat. Produk fermentasi yang dihasilkan berupa etanol, asam laktat, dan
asam asetat yang akan berdifusi ke dalam biji dan membuat biji tidak
berkecambah.
Fermentasi
yang terjadi pada biji kakao ada dua macam yaitu:
a) Fermentasi eksternal akan menghancurkan pulp yang melekat pada biji
dengan bantuan mikroorganisme.
b) Fermentasi internal mengakibatkan terjadinya perubahan kimia di
dalam biji dengan bantuan enzim-enzim.
Selama
fermentasi terjadi pula aktivitas enzimatik yang melibatkan enzim endoprotease,
aminopeptidase, karboksipeptidase, invertase (kotiledon dan pulp), polifenol
oksidase dan glikosidase. Enzim-enzim ini berperan dalam pembentukan prekursor
cita rasa dan degradasi pigmen selama fermentasi.
Prekursor
cita rasa (asam amino, peptida dan gula pereduksi) membentuk komponen cita rasa
di bawah reaksi Maillard (reaksi pencoklatan non-enzimatis) selama
penyangraian. Selama proses fermentasi terjadi perubahan pH pulp dimana
pH pulp dalam dua hari akan naik dari 3,6 menjadi 4,5 dan akan terus
meningkat hingga 6,5 pada hari ke tujuh. pH biji dari 6,25 akan turun menjadi
4,5 dalam waktu dua hari dan selanjutnya akan naik.
Fermentasi
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan kotak dan menggunakan
keranjang.
|
No
|
Fermentasi dengan kotak/peti fermentasi
|
Fermentasi menggunakan keranjang bambu
|
|
1.
|
Biji kakao dimasukkan dalam kotak terbuat
dari lembaran papan yang berukuran panjang 60 cm dengan tinggi 40 cm (kotak
dapat menampung ± 100 kg biji kakao basah) setelah itu kotak ditutup dengan
karung goni/daun pisang.
|
Keranjang bambu terlebih dahulu dibersihkan
dan dialasi dengan daun pisang baru kemudian biji kakao dimasukan (keranjang
dapat menampung ± 50 kg biji kakao basah)
|
|
2.
|
Pada hari ke 3 (setelah 48 jam) dilakukan
pembalikan agar fermentasi biji merata.
|
Setelah biji kakao dimasukan keranjang ditutup
dengan daun pisang.
|
|
3.
|
Pada hari ke 6 biji-biji kakao dikeluarkan
dari kotak fermentasi dan siap untuk dijemur.
|
Pada hari ke 3 dilakukan pembalikan biji
dan pada hari ke 6 biji-biji dikeluarkan untuk siap dijemur.
|
Faktor yang perlu
diperhatikan selama fermentasi :
§ Jumlah biji yang difermentasi
§ Tempat fermentasi
§ Tebal lapisan biji
§ Aerasi
§
Lama fermentasi
Tanda proses fermentasi telah selesai
dilakukan adalah :
o Biji kakao sudah tampak kering/lembab,
berwarna coklat dan berbau asam cuka.
o Lendir yang melekat pada biji mudah
dikupas.
o Bila dipotong melintang penampang biji kakao akan tampak sperti
cincin berwarna cokelat untuk kakao mulia dan warna ungu hilang pada kakao
lindak.
6. Perendaman dan Pencucian
Tujuan: untuk menghentikan proses fermentasi.
Perendaman dan pencucian juga akan
memperbaiki kenampakan dari biji dimana biji akan nampak lebih menarik dan
warna menjadi coklat cerah.
Perendaman dilakukan lebih kurang 3
jam. Selama proses perendaman, sebagian kulit biji kakao akan larut sehingga
kulit menjadi lebih tipis dan rendemen menjadi berkurang. Akibatnya proses
pengeringan akan menjadi lebih singkat.
Pencucian yang berlebihan akan
menyebabkan kehilangan bobot, biji mudah pecah dan akan meningkatkan biaya
produksi. Biji kakao dari hasil pemeraman buah selama 7-12 hari tidak perlu
dilakukan pencucian karena kadar kulit sudah rendah.
7. Pengeringan
Biji kakao aman disimpan jika
memiliki kadar air kurang dari 7,5 %. Untuk mencapai kadar air tersebut maka
dilakukan pengeringan. Proses pengeringan ini dapat dilakukan dengan 3 cara
yaitu :
v Penjemuran
Penjemuran dilakukan dengan memanfaatkan
cahaya matahari . Biji kakao yang dijemur sebaiknya memiliki tebal 3-5 cm atau
2-3 lapis biji, Agar penjemuran berlangsung efisien, dilakukan pembalikan
setiap 1-2 jam.
Untuk menghasilkan biji kakao dengan kadar
air maksimal 7,5 %, waktu yang dibutuhkan 7-9 hari dengan waktu rata-rata
perhari 7-8 jam penjemuran.
v Pengeringan mekanis
Menggunakan mesin pengering dan biasanya
dilakukan secara berkelompok . Suhu yang digunakan antara 55-60 °C. untuk
menghasilkan kadar air maksimal 7,5 % dibutuhkan waktu antara 40-50 jam.
v Kombinasi penjemuran dan mekanis
Dilakukan dengan dua tahap yaitu :
·
Penjemuran, dilakukan untuk
menghasilkan biji kakao dengan kadar 20-25 % dan waktu membutuhkan waktu 1-2
hari tergantung dari cuaca.
·
Setelah dicapai kadar air 20-25
%, penjemuran dengan cara mekanis.
Waktu yang dibutuhkan mesin pengering untuk mencapai kadar air 7,5 % sekitar 15-20
jam
8. Sortasi dan Grading
Tujuan : memisahkan kotoran atau benda asing
yang tercampur dalam biji kopi dan untuk mengelompokkan biji berdasarkan
ukuran.
Sortasi dilakukan dengan menggunakan mesin
sortasi jenis silinder berputar atau jenis datar.
Kriteria mutu dari biji kakao berdasarkan ukuran
SNI biji kakao No
2323:2008/ Amd 1:2010, biji kakao dikelompokkan ke dalam 5 ukuran:
o Mutu AA : jumlah
biji maksimum 85 per 100 gram.
o Mutu A : jumlah
biji 86-100 per 100 gram.
o Mutu B : jumlah
biji 101-110 per 100 gram.
o Mutu C : jumlah
biji 111-120 per 100 gram
o Mutu S : lebih besar dari 120 biji per
100 gram
9. Pengemasan dan penyimpanan
Tujuan : melindungi
produk dan mempertahankan mutu perlu dilakukan pengemasan.
Bahan pengemas yang biasa digunakan adalah
karung.
Faktor-faktor yang
perlu diperhatikan dalam proses pengemasan dan penyimpanan adalah
o Berat per kemasan
o Label yang
menunjukkan nama komoditas, mutu biji kakao, dan identitas produsen.
o Ruang penyimpanan harus bersih dan
kelembaban maksimal 75 %.
o
Karung
diletakkan di atas palet untuk menghindari kontak langsung dengan lantai.
(3) Pengolahan Sekunder Kakao
Menghasilkan
produk setengah jadi yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk produk jadi
misal minuman atau bubuk kakao.
Alur proses pengolahan sekunder kakao
yaitu:
![]() |
![]() |
![]() |
A. Penyangraian
Tujuan: mengembangkan
rasa, aroma, warna, memudahkan pelepasan kulit dari biji, dan mengurangi kadar
air.
Biji yang berbentuk bulat akan
membutuhkan waktu penyangraian yang lebih lama dibandingkan, Biji yang berukuran kecil akan lebih cepat
berubah warna dibandingkan yang berukuran besar. Untuk itu perlu keseragaman
ukuran untuk menghasilkan keseragaman warna hasil penyangraian.
Perubahan awal yang terjadi pada
proses penyangraian adalah penurunan kadar air dan pengeringan biji kakao.
Perubahan selanjutnya adalah penghilangan rasa asam dengan menguapnya komponen
asam organik volatil seperti asam asetat yang sangat dominan terbentuk ketika
terjadi proses fermentasi. Tanin yang mengakibatkan rasa pahit juga
teroksidasi selama proses penyangraian.
Proses penyangraian dapat
menggunakan
o
Penyangrai
tipe batch
o
Penyangraian
tipe kontinyu
B. Pemisahan kulit
Tujuan:
menghilangkan kulit biji kakao. Kandungan selulosa yang tinggi pada kulit biji
kakao dapat menyebabkan rasa pedih sehingga tidak cocok untuk dikonsumsi.
Alat yang digunakan untuk memisahkan kulit
adalah mesin pemecah kulit. Mesin ini digunakan untuk proses pemisahan kulit
biji kakao menjadi nib sekaligus memperkecil ukuran kakao tersebut
C. Penggilingan
Tujuan
: Menghancurkan nib menjadi ukuran tertentu (<20 mμ) sehingga nib menjadi
pasta cair kental. Hasil ini terjadi karena biji kakao mengandung 50 % lemak
kakao.
Mesin yang digunakan untuk
penggiling adalah mesin penggiling kasar dimana sistemnya adalah menghancurkan nib
menjadi pasta kental
D. Pengempaan
Tujuan : Memisahkan
lemak kakao dari pasta kasar yang telah dihasilkan. .
Alat
pengempa/pengepres pasta kakao ada 2 jenis yaitu
§
Alat pengempa tipe mekanis : menggunakan
tenaga manusia
§ Alat pengempa tipe hidrolik : menggunakan tenaga mesin yang
bekerja berdasarkan prinsip tekanan bahan cair (oli)
Hasil dari pengempaan ini adalah lemak kakao dan bungkil kakao.
Lemak kakao cair akan menerobos saringan dan keluar dari dinding silinder.
Lemak kakao memiliki sifat khas yakni bersifat plastis, warna putih-kekuningan
dan mempunyai aroma khas cokelat..
E. Penggilingan
Pasta kasar yang
diperoleh dari hasil pengepresan didinginkan, sehingga membentuk cake (padatan)
untuk selanjutnya dilakukan penggilingan dengan mesin pembubuk coklat yang
menghasilkan partikel lebih halus dalam bentuk bubuk coklat yang merupakan
bahan baku utama minuman cokelat, es krim dan kue cokelat kering
F. Pengemasan
Pengemasan
bubuk coklat dilakukan dengan menggunakan bahan plastik yang tebalnya 0,8 mm
atau alluminium foil dengan menggunakan alat pengemas vakum (vakum
sealer) yang mampu mempertahankan mutu produk didalam kemasan.
(4) Standar mutu kakao
Standar
mutu biji kakao di Indonesia diatur dalam Standar nasional Indonesia Biji Kakao
(SNI 2323:2008/Amd 1:2010) dan terbagi atas dua syarat mutu yaitu syarat umum
dan syarat khusus.
Syarat mutu umum biji kakao :
|
No
|
Jenis Uji
|
Satuan
|
Persyaratan
|
|
1
|
Serangga hidup
|
-
|
Tidak ada
|
|
2
|
Serangga mati
|
-
|
Tidak ada
|
|
3
|
Kadar air (b/b )
|
%
|
Maks 7.5
|
|
4
|
Biji berbau asap
dan atau hammy dan atau berbau asing
|
-
|
Tidak ada
|
|
5
|
Kadar biji pecah
dan atau pecah kulit (b/b)
|
%
|
Maks 2
|
|
6
|
Kadar benda-benda
asing (b/b)
|
%
|
Tidak ada
|
Syarat khusus biji kakao
|
Jenis Mutu
|
Persyaratan
|
||||||
|
Kakao Mulia
(Fine cocoa)
|
Kakao Lindak
(Bulk cocoa)
|
Kadar Biji Berja
mur (b/b)
|
Kadar Biji Slaty
(b/b)
|
Kadar Biji Berse
rangga (b/b)
|
Kadar Kotoran
(b/b)
|
Kadar Biji Berke
cambah (b/b)
|
|
|
I-F (AA-S)
|
I-B (AA-S)
|
Maks 2
|
Maks 3
|
Maks 1
|
Maks 1.5
|
Maks 2
|
|
|
II-F (AA-S)
|
II-B (AA-S)
|
Maks 4
|
Maks 8
|
Maks 2
|
Maks 2
|
Maks 3
|
|
|
III-F (AA-S)
|
III-B (AA-S)
|
Maks 4
|
Maks 20
|
Maks 2
|
Maks 3
|
Maks 3
|
|



Tidak ada komentar:
Posting Komentar